Rabu, 21 Desember 2016



IMMADA Bali Promosikan NTT Lewat Seni dan Budaya





Kehidupan manusia tak ubahnya seperti sebuah skenario dalam pertunjukan drama. Setiap detik dalam kehidupan manusia dapat diterjemahkan ke dalam sebuah karya dan melahirkan makna yang tidak bisa dinilai dengan materi apapun. Hal ini yang coba dilakukan oleh Ikatan Mahasiswa Manggarai Udayana Bali (IMMADA) pada salah satu ajang festival budaya di Ubud, Bali.
 Event akbar yang bertemakan Art, Culture, Envirotment, and Vintage yang bertujuan untuk menampilkan kekayaan budaya Indonesia kembali diselenggarakan di Denpasar, Bali.
Kali ini even yang diselenggarakan oleh mahasiswa Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Bali ini, mengambil lokasi pementasan di Taman Baca Ubud Writers & Readers Festival, Gianyar, Denpasar-Bali pada  Sabtu, 17 Desember 2016.
Berbagai macam kesenian dan kebudayaan Nusantara ditampilkan dalam festival yang bertajuk “KITA NUSANTARA” ini.
Tak ketinggalan, kesenian dari daerah Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur yang  diwakili oleh organisasi Ikatan Mahasiswa Manggarai Udayana Bali (IMMADA) turut ditampilkan dalam festival ini.


Sebagai salah satu paguyuban yang diundang untuk menampilkan kesenian khas daerahnya, IMMADA menampilkan tarian tradisional dan lagu-lagu daerah NTT.
Adapun tarian yang disuguhkan  bertemakan kehidupan keseharian pemuda dan pemudi Manggarai serta  tarian tarian caci yang cukup menarik perhatian tamu undangan.
Sedangkan untuk lagu daerah, IMMADA membawakan tiga buah lagu yaitu: So Inang So Amang, Benggong, dan Kala Rana.
Tarian yang dibawakan oleh anggota IMMADA menceritakan keseharian kaum kartini Manggarai yang lebih banyak menghabiskan waktunya di kebun dan para pemuda yang selalu sibuk berburu di hutan.
Dalam tarian yang sarat akan makna ini, diselipkan beberapa pesan moral yang dikemas ke dalam sebuah monolog singkat.
Pesan yang disampaikan berupa ajakan untuk semua insan muda Indonesia agar senantiasa menjaga dan melestarikan lingkungan alam sekitar yang akhir-akhir ini sudah mulai kehilangan rohnya.
Selain itu insan muda juga diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai pemegang kehidupan.


Faransiska, ketua IMMADA sangat mengapresiasi kegiatan festival budaya kali ini karena selain menampilkan kekayaan seni dan budaya Nusantara, ajang ini bisa dijadikan sarana edukasi untuk memperluas wawasan terutama dalam bidang sosial budaya.
Selain itu, ia sendiri berpesan agar keberagaman budaya jangan dijadikan sebagai pemicu perpecahan melainkan harus menjadi sarana pemersatu bangsa ini.
Selain pertunjukan tarian dan lagu daerah, IMMADA juga membuka stand pameran kain tenun khas Nusa Tenggara Timur.
Kain yang dipamerkan kali ini terdiri dari kain songke Manggarai, songke Todo, kain Rote, kain Maumere, dan kain Larantuka.
“Kami memilih memamerkan kain tenun tradisional agar masyarakat luas bisa mengenal berbagai macam kain tenun dari NTT. Selain itu, agar masyarakat mengetahui nilai historis dibalik motif tenunan kaih khas dari NTT” jelas Fransiska.


Hari Ibu



Single Mom: Fight & Survive
Ungkapan yang mengatakan “Ibu adalah Lentera dalam Hidup” pantas disematkan pada para single mom yang berjuang siang malam untuk menghidupi keluarga dengan segala usaha yang mereka miliki. Perjuangan para single mom ini ibarat cahaya matahari yang tak pernah hentinya menyinari dunia.
Tanggal 22 Desember di Indonesia diperingati sebagai hari ibu. Sesuai dengan namanya, pada moment hari ibu ini secara khusus kita memberi penghormatan pada kaum wanita di Indonesia terutama para kaum ibu. Pada perayaan ini segala macam bentuk ucapan yang berisikan pujian dan sanjungan diberikan spesial untuk kaum ibu di Indonesia.
            Menarik ketika kita sedikit menoleh ke belakang untuk melihat sejarah dibalik penetapan perayaan hari ibu di Indonesia. Tanggal 22 Desember dipilih oleh presiden Soekarno sebagai tanggal peringatan hari ibu karena moment di tanggal ini bertepatan dengan ulang tahun ke-25 kongres perempuan. Pada awalnya, peringatan hari ibu merupakan perayaan untuk menghargai semangat kaum wanita dalam menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Akan tetapi, lambat laun makna ini berubah dan menjadi perayaan yang dikhususkan untuk menghormati kaum ibu.
            Terlepas dari adanya pergeseran makna dibalik perayaan hari ibu di Indonesia, kembali lagi kita harus melihat apakah kebahagiaan perayaan hari ibu yang kita rayakan sudah menyiratkan kebahagiaan hidup dari kaum ibu itu sendiri. Melihat fakta yang ada saat ini, begitu banyak kaum ibu di Indonesia yang berjuang sendirian dalam menghidupi dan mengurusi keluarganya. Para single mom ini terbukti mampu bertahan di tengah kerasnya potret kehidupan dunia meskipun harus sedikit tertatih dan berpeluh untuk memperoleh sesuap nasi untuk anak dan keluarga.
            Kondisi dan situasi yang dihadapi oleh para single mom bukanlah hal yang dikehendaki dan diinginkan oleh para ibu ini. Akan tetapi kenyataan hidup yang seperti ini tidak bisa dielak oleh para ibu. Demi terciptanya kebahagiaan dalam keluarga, mau tidak mau memaksa para single mom untuk sedikit memutar otaknya dalam mensiasati kehidupan yang keras itu. Segala macam bentuk bakat dan kreasi disulap menjadi sebuah lapangan usaha semata-mata untuk menghasilkan lembar demi lembar rupiah demi tercapainya semua kebutuhan keluarga. Usaha keras ini yang menempatkan para single mom sebagai ibu-ibu hebat di Indonesia, bahkan di dunia.
            Akan tetapi, terkadang ketika kebuntuan dalam mencari jalan keluar menghampiri, para single mom akan menempuh jalan pintas yang menuntut mereka untuk mengorbankan banyak hal. Hal ini harus mereka lakukan demi keberlangsungan kehidupan di hari-hari selanjutnya. Tidak dapat dipungkiri lagi keputus asaan para single mom dalam berusaha menghidupi keluarga membuat mereka terpaksa harus menjadi gelandangan dan pengemis di pinggir-pingir jalan kota, bahkan yang lebih parahnya lagi begitu banyak para ibu yang dengan terpaksa harus menjadi “wanita malam” demi memenuhi kebutuhan keluarga.
            Dengan realita yang sedemikian kelamnya siapakah sebenarnya yang paling bertanggung jawab dalam hal ini? Pertanyaan semacam ini tentunya sangat sulit untuk dicari jawaban dan kebenarannya. Namun, kita juga tidak bisa hanya berdiam diri dan menjadi penonton setia akan masalah seperti ini. Demi mewujudkan kebahagiaan dibalik makna hari ibu, kita harus merenungkan dan mulai memikirkan solusi untuk permasalahan yang sedang dihadapi oleh para single mom di Indonesia tercinta ini. Solusi dari kita sebagai putra dan putri bangsa sangat dibutuhkan oleh tanah air tercinta ini. Agar kelak di perayaan hari ibu yang selanjutnya, kaum ibu di Indonesia benar-benar sudah merasakan kebahagiaan dan terhindar dari peliknya potret kehidupan di Indonesia.
SELAMAT HARI IBU. JADIKAN IBU SEBAGAI SOSOK PALING SPESIAL DALAM HIDUP KITA. JADIKAN SENYUMANNYA SEBAGAI LAGU PENGIRING YANG SENANTIASA TERNGIANG DALAM PIKIRAN KITA DALAM PERJALANAN MENGGAPAI KESUKSESAN. SETIAP KATA YANG KELUAR DARI MULUTNYA ADALAH DOA BAGI KITA ANAK-ANAKNYA.