Valentine
Kelabu
Bagi sebagian orang Valentine merupakan moment yang paling
ditunggu-tunggu. Namun, bagiku Valentine merupakan moment yang menyisakan duka
yang sampai saat ini masih sangat menyesakkan dada. Aku kehilangan dua sosok
yang sangat aku cintai tepat dimana moment Valentine itu sedang terjadi. Rasa sukacitaku
kala itu serentak berubah menjadi ratapan seiring kepergian kedua orang tuaku
yang terkesan mendadak bagiku. Kisah kelabuku ini yang menyebabkan aku merasa
trauma ketika mendengar kata Valentine.
Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diriku. Namaku Mellisa,
umur 22 tahun, dan aku seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri
di Bali. Aku merupakan sosok wanita yang tumbuh dan berkembang di tengah
keluarga sederhana namun kaya akan cinta dan kasih sayang. Ayahku hanyalah
seorang sopir angkutan umum dan ibuku seorang buruh cuci. Sejak SMA aku sudah
terbiasa bekerja untuk membantu perekonomian keluargaku. Hingga saat aku duduk
di bangku perguruan tinggipun aku masih bekerja untuk membantu membiayai uang
kuliahku.
Awalnya aku sama seperti remaja lain seusiaku yang sangat
antusias dalam menyambut moment Valentine. Tak jarang aku bersama teman-temanku
mempersiapkan kejutan Valentine untuk orang-orang terkasih kami dengan sekedar
berburu kado sederhana. Aku juga sering mendapat kado dan ucapan kasih sayang
dari orang tua, pacar dan teman-temanku. Sungguh keberadaan Valentine membawa
kebahagiaan tersendiri bagiku.
Namun keceriaan Valentine 2016 tidak bisa aku rasakan
kembali. Disinilah Valentine kelabuku terjadi. Di pagi 14 Februari 2016 aku
terbangun dengan perasaan berbunga-bunga tanpa terbersit sedikitpun dalam
pikiranku bahwa hari itu aku akan mengalami kedukaan. Seperti biasanya, aku
melakukan aktifitasku sebelum ke kampus membereskan rumah yang sejak subuh
ditinggalkan orang tuaku untuk mencari receh demi receh rupiah untuk kebutuhan
kami hari itu. Setelah selesai membereskan rumah, akupun bersiap menuju ke
kampus hari itu. Setelah beberapa lama melakukan aktivitas di kampus, kemudian
aku langsung bergegas menuju ke sebuah minimarket dimana tempat aku bekerja. Dalam
perjalanan menuju minimarket perasaanku sangat bercampur aduk. Bagaimana tidak,
pada moment Valentine kali ini secara special dan untuk yang pertama kalinya
aku akan memberikan hadiah untuk ayah dan ibuku. Hadiahnya memang tidak mewah
tidak juga mahal, hanya sepaket peralatan cukur untuk ayah dan sebuah daster
untuk ibu. Kado kali ini kubeli dengan uang hasil keringatku sendiri yang sudah
lama kutabung.
Namun suasana hatiku mendadak berubah ketika aku mendapat
sambungan telepon dari salah satu rumah sakit yang mengatakan ayah dan ibu
telah menjadi korban dalam kecelakaan di sore itu. Tanpa berpikir panjang
akupun berlari menuju rumah sakit tersebut dengan perasaan yang berkecamuk
dalam diriku. Sesampainya aku di sana, seluruh tubuhku seakan kaku, lidahku tak
mampu mengucapkan sepatah katapun, hanya air mata yang menetes membasahi pipiku
ketika ku lihat ayah dan ibuku terbujur kaku tak bernyawa di pembaringan.
Apa yang kualami saat itu bagaikan mimpi buruk yang
membuatku ingin terbangun dari tidurku. Namun inilah kenyataan yang harus aku
jalani. Sejuta pertanyaanpun muncul dalam pikiranku. Setega inikah Tuhan
mengambil kedua sosok yang kusayangi tepat di hari Valentine? Mengapa Tuhan
tidak memberiku kesempatan untuk membahagiakan keduanya di hari Valentine ini? Dan
apakah harus secepat ini Tuhan?
Kondisi
ini sangat membuat diriku berada pada titik terendah dalam hidup. Siapa lagi
yang akan membimbingku? Namun, aku tidak mau larut dalam dukaku ini. Aku akan
membuat kedua orang tuaku tersenyum disana dengan keberhasilanku dalam
perkuliahanku. Dan aku harus bangkit kali ini. Aku harus berjuang lebih keras
lagi dari sebelumnya.
Di tahun
ini, gema Valentine kembali hadir di tengah insan dunia. Memory kejadian di
Valentine kelabu setahun yang lalu perlahan mulai merasuk pikiranku. Rasa trauma
akan kejadian yang serupa nampaknya mulai terlihat lagi. Aku hanya bisa berdoa dan
berharap semoga di Valentine tahun ini kado yang belum sempat aku persembahkan
untuk ayah dan ibu bisa aku berikan. Bukan benda, bukan pula materi yang lain,
tetapi doa seorang anak yang mencintai orang tuanya dan persembahan kesuksesan
atas perjuangan selama ini.


