Minggu, 12 Februari 2017

Cerpen



Valentine Kelabu
          Bagi sebagian orang Valentine merupakan moment yang paling ditunggu-tunggu. Namun, bagiku Valentine merupakan moment yang menyisakan duka yang sampai saat ini masih sangat menyesakkan dada. Aku kehilangan dua sosok yang sangat aku cintai tepat dimana moment Valentine itu sedang terjadi. Rasa sukacitaku kala itu serentak berubah menjadi ratapan seiring kepergian kedua orang tuaku yang terkesan mendadak bagiku. Kisah kelabuku ini yang menyebabkan aku merasa trauma ketika mendengar kata Valentine.
          Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diriku. Namaku Mellisa, umur 22 tahun, dan aku seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Bali. Aku merupakan sosok wanita yang tumbuh dan berkembang di tengah keluarga sederhana namun kaya akan cinta dan kasih sayang. Ayahku hanyalah seorang sopir angkutan umum dan ibuku seorang buruh cuci. Sejak SMA aku sudah terbiasa bekerja untuk membantu perekonomian keluargaku. Hingga saat aku duduk di bangku perguruan tinggipun aku masih bekerja untuk membantu membiayai uang kuliahku.
          Awalnya aku sama seperti remaja lain seusiaku yang sangat antusias dalam menyambut moment Valentine. Tak jarang aku bersama teman-temanku mempersiapkan kejutan Valentine untuk orang-orang terkasih kami dengan sekedar berburu kado sederhana. Aku juga sering mendapat kado dan ucapan kasih sayang dari orang tua, pacar dan teman-temanku. Sungguh keberadaan Valentine membawa kebahagiaan tersendiri bagiku.
          Namun keceriaan Valentine 2016 tidak bisa aku rasakan kembali. Disinilah Valentine kelabuku terjadi. Di pagi 14 Februari 2016 aku terbangun dengan perasaan berbunga-bunga tanpa terbersit sedikitpun dalam pikiranku bahwa hari itu aku akan mengalami kedukaan. Seperti biasanya, aku melakukan aktifitasku sebelum ke kampus membereskan rumah yang sejak subuh ditinggalkan orang tuaku untuk mencari receh demi receh rupiah untuk kebutuhan kami hari itu. Setelah selesai membereskan rumah, akupun bersiap menuju ke kampus hari itu. Setelah beberapa lama melakukan aktivitas di kampus, kemudian aku langsung bergegas menuju ke sebuah minimarket dimana tempat aku bekerja. Dalam perjalanan menuju minimarket perasaanku sangat bercampur aduk. Bagaimana tidak, pada moment Valentine kali ini secara special dan untuk yang pertama kalinya aku akan memberikan hadiah untuk ayah dan ibuku. Hadiahnya memang tidak mewah tidak juga mahal, hanya sepaket peralatan cukur untuk ayah dan sebuah daster untuk ibu. Kado kali ini kubeli dengan uang hasil keringatku sendiri yang sudah lama kutabung.
          Namun suasana hatiku mendadak berubah ketika aku mendapat sambungan telepon dari salah satu rumah sakit yang mengatakan ayah dan ibu telah menjadi korban dalam kecelakaan di sore itu. Tanpa berpikir panjang akupun berlari menuju rumah sakit tersebut dengan perasaan yang berkecamuk dalam diriku. Sesampainya aku di sana, seluruh tubuhku seakan kaku, lidahku tak mampu mengucapkan sepatah katapun, hanya air mata yang menetes membasahi pipiku ketika ku lihat ayah dan ibuku terbujur kaku tak bernyawa di pembaringan.
          Apa yang kualami saat itu bagaikan mimpi buruk yang membuatku ingin terbangun dari tidurku. Namun inilah kenyataan yang harus aku jalani. Sejuta pertanyaanpun muncul dalam pikiranku. Setega inikah Tuhan mengambil kedua sosok yang kusayangi tepat di hari Valentine? Mengapa Tuhan tidak memberiku kesempatan untuk membahagiakan keduanya di hari Valentine ini? Dan apakah harus secepat ini Tuhan?
Kondisi ini sangat membuat diriku berada pada titik terendah dalam hidup. Siapa lagi yang akan membimbingku? Namun, aku tidak mau larut dalam dukaku ini. Aku akan membuat kedua orang tuaku tersenyum disana dengan keberhasilanku dalam perkuliahanku. Dan aku harus bangkit kali ini. Aku harus berjuang lebih keras lagi dari sebelumnya.
Di tahun ini, gema Valentine kembali hadir di tengah insan dunia. Memory kejadian di Valentine kelabu setahun yang lalu perlahan mulai merasuk pikiranku. Rasa trauma akan kejadian yang serupa nampaknya mulai terlihat lagi. Aku hanya bisa berdoa dan berharap semoga di Valentine tahun ini kado yang belum sempat aku persembahkan untuk ayah dan ibu bisa aku berikan. Bukan benda, bukan pula materi yang lain, tetapi doa seorang anak yang mencintai orang tuanya dan persembahan kesuksesan atas perjuangan selama ini.


       

Rabu, 08 Februari 2017

OPINI



LP: Lembaga Pemasyarakatan BUKAN Lembaga Pengedar
Oleh: Gabriel A. Faran

            Indonesia merupakan salah satu negara dengan sistem hukum yang jelas. Hukum di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang. Untuk menunjang setiap penegakkan hukum di Indonesia, pemerintah membangun beberapa fasilitas penunjang seperti Lembaga Pemasyarakatan (LP/Lapas). Lembaga pemasyarakatan ini dibuat untuk mendidik dan memasyarakatkan kembali individu-individu yang sebelumnya sudah terjerumus dalam suatu tindakan yang melanggar hukum. Namun, apalah jadinya jika fungsi Lapas yang sejatinya ingin mendidik dan memasyarakatkan para pelanggar hukum berubah menjadi pusat peredaran obat-obatan terlarang?
            Di Indonesia sendiri, hampir setiap daerah memiliki Lapasnya masing-masing. Maka, tidaklah mengherankan jika pemerintah juga kewalahan dalam mengurus dan mengontrol Lapas-Lapas ini. Berbagai macam permasalahan terkait keberadaan Lapas akhir-akhir ini banyak bermunculan, mulai dari permasalahan infrastruktur gedung, tingkat keamanan, kinerja petugas, hingga masalah peredaran obat-obatan terlarang. Hal semacam ini nampaknya sangat mustahil terjadi pada sebuah lembaga yang berfungsi untuk mendidik dan memasyarakatkan kembali para pelanggar hukum. Namun, mau tidak mau dan suka atau tidak suka kita harus menerima fakta miris ini.
            Di tengah gencarnya pemerintah Indonesia dalam memerangi narkoba, pemerintah seakan menerima tamparan keras dari kegiatan peredaran narkotika di area Lapas. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam memerangi narkoba seakan sia-sia dan tak berdampak positif sedikitpun. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi pada lembaga penegakkan hukum? Apa dan siapa yang salah dalam kasus ini? Pertanyaan semacam ini tentunya semakin menyudutkan posisi pemerintah dan pihak penegak hukum.
            Dikutip dari sindonews.com, bahwa dalam kurun waktu September 2016 hingga Februari 2017 terjadi kurang lebih tiga belas kasus penggunaan dan pengedaran narkoba di area Lapas, baik yang dilakukan oleh para napi, petugas Lapas, maupun oleh pihak luar. Apa yang terjadi di dalam area Lapas ini memang tidak bisa dicerna dengan akal sehat kita. Selain itu, sekarang bukanlah saat yang tepat bagi kita untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang jelas kejadian yang sudah menimpa lembaga penegakkan hukum kita ini sudah memberi citra buruk terhadap sistem penegakkan hukum di Indonesia.
            Secara pribadi saya melihat kasus ini terjadi sebagai dampak dari lemahnya pengawasan dan adanya kurang perhatian dari pemerintah terhadap kesejahteraan pegawai Lapas. Mengapa saya katakan demikian? Lapas yang ada di Indonesia jumlahnya lumayan banyak dan tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Selain itu, tenaga yang dipekerjakan di setiap Lapas tidak sebanding dengan jumlah narapidana dan luas lokasi Lapas. Berangkat dari fakta ini, saya bisa simpulkan bahwa dengan keterbatasan yang sedemikian rupa fungsi pengawasan terhadap Lapas dan oknum yang ada di dalamnya tidak berjalan dengan maksimal. Lemahnya pengawasan yang dilakukan pemerintah dan petugas Lapas telah membuka ruang bagi para pengedar narkoba untuk menjalankan aksinya. Ruang gerak para pengedar narkoba semakin terbuka lebar ketika ada petugas Lapas yang bersedia di ajak kerja sama. Ada banyak faktor yang membuat para petugas Lapas terlibat dalam bisnis hitam ini, dan salah satunya adalah karena gaji yang diterima sangat minim.
            Dari fakta permasalahan tersebut, diharapkan agar pemerintah lebih fokus lagi dalam menangani masalah ini. Fokus yang dimaksud adalah pemerintah lebih intens lagi dalam mengontrol dan mengawasi Lapas beserta napi dan pegawainnya. Apabila terdapat system manajemen pengelolaan Lapas yang kurang maksimal, hendaknya dengan segera pemerintah turun tangan untuk memperbaikinya. Selain dari pemerintah, saya juga menghimbau kepada masyarakat agar mulai dari sekarang harus memiliki kesadaran akan dampak buruk dalam menggunakan narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya. Sebisa mungkin kita harus hindari narkoba karena narkoba dapat membawa dampak buruk bagi kita. Sebagai anak bangsa yang bermartabat kita harus kembalikan citra bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bersih dan bebas dari narkoba.

Kamis, 02 Februari 2017

JEJAK PARA MARTIR



St. Valentinus: Memperjuangkan Hak Atas Cinta

            Dalam ajaran agama Katolik dikenal begitu banyak orang-orang kudus. Para kudus ini dalam agama Katolik digelar dengan nama santo/santa. Pandangan,teladan hidup, serta pengorbanan semasa hidup dari para orang kudus membuat para petinggi gereja memberi penghargaan berupa penobatan sebagai santo/santa. Bahkan untuk memperingati orang-orang kudus ini, gereja sudah menetapkannya dalam kalender Katolik. Pandangan serta teladan hidup dari para orang kudus ini telah membawa pengaruh besar dalam sejarah perkembangan gereja, bahakan dunia. Seperti halnya teladan dan pandangan hidup dari St. Valentinus.
            Valentinus merupakan seorang pendeta Kristen yang juga dikenal sebagai tabib (dokter) yang dermawan dan sangat memperhatikan kaum kecil. Valentinus hidup di salah satu kerajaan yang dipimpin oleh Kaisar Claudius yang dikenal sangat kejam. Kaisar Claudius diketahui berambisi memiliki pasukan militer yang kuat, dan oleh karenanya ia menginginkan semua pria yang ada dalam wilayah kerajaannya masuk ke dalam pasukan militer miliknya. Hal ini membuat Valentinus merasa geram dan sangat membenci sang Kaisar. Kaisar dianggap telah membatasi hak dan kebebasan dari rakyatnya.
            Menurut Valentinus, para pria saat itu memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari pada hanya sekedar bergabung dengan pasukan militer milik Kaisar. Kaum pria pada saat itu merupakan satu-satunya tulang punggung bagi kehidupan keluarganya. Dan apabila mereka diajak untuk bergabung dalam pasukan militer dan berperang untuk Kaisar, maka tidak dapat dihitung jumlah korban jiwa nantinya. Akibatnya keadaan keluarga yang ditinggalkan akan bertambah sulit, sementara Kaisar akan menikmati sendiri keberhasilannya. Pengaruh Valentinus ini ternyata diterima baik oleh para pria di kerajaan itu dan membuat mereka enggan meninggalkan keluarga dan bergabung dengan Kaisar.
            Hal ini memicu kemarahan yang dahsyat dari Caludius. Caludius berpikiran bahwa jika pria tidak menikah maka pasti mereka akan bergabung dalam pasukan militer miliknya. Seiring dengan munculnya pemikiran yang salah dari sang Kaisar, muncul pula niat jahatnya yang mengeluarkan kebijakan larangan kepada para pria untuk menikah. Mendengar hal ini, St.Valentinus semakin geram dan menolak perintah sang Kaisar. St.Valentinus menilai kebijakan sang Kaisar sangat tidak masuk akal dan tidak bias diterima.
            Dalam perjalanan selanjutnya, St.Valentinus yang menentang kebijakan Kaisar Claudius tetap melaksanakan tugasnya sebagai penggembala umat, yaitu menikahkan para pasangan yang sedang jatuh cinta meskipun secara diam-diam. Hingga pada akhirnya, Claudisus mengetahui apa  yang telah dilakukan oleh St.Valentinus, namun pada saat itu Kaisar Claudius masih memaafkan St.Valentinus dan hanya memberi peringatan saja. Nampaknya peringatan sang Kaisar tidak di dengar oleh Valentinus. Ia tetap saja memberi sakramen perkawinan kepada rakyat kerajaan.
            Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentinus tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya.
Sejak kematian Valentine (14 februari 269M), kisahnya menyebar dan meluas, hingga tidak satu pelosok pun di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan nenek mendongengkan cerita Santo Valentinus pada anak dan cucunya sampai pada tingkat pengkultusan.
Ketika agama Katolik mulai berkembang, para pemimipin gereja ingin turut andil dalam peran tersebut. Untuk mensiasatinya, mereka mencari tokoh baru sebagai pengganti Dewa Kasih Sayang, Lupercus (Romawi Kuno). Akhirnya mereka menemukan pengganti Lupercus, yaitu St.Valentine.
Di tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara Lupercaria (Romawi Kuno) yang dilaksanakan setiap 15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun kemudian, sang Paus mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan tanggal matinya Santo Valentinus sebagai bentuk penghormatan dan pengkultusan kepada Santo Valentinus. Dengan demikian perayaan Lupercaria sudah tidak ada lagi dan diganti dengan "Valentine Days."
Dari cerita singkat mengenai perjalan hidup St.Valentinus kita bisa mengetahui salah satu dasar history perayaan hari Valentine. Selain itu, hal yang paling penting yang harus kita petik dari tauladan hidup St.Valentinus adalah perjuanganya dalam memberi ha katas cinta kepada umatnya. Kita harus mengetahui bahwa semua orang berhak atas cinta dan kita sebagai manusia tidak boleh membatasi hal tersebut. Kita harus saling mendukung satu sama lain dan harus saling membagi cinta kepada sesama.


Rabu, 01 Februari 2017

Inspirasi Valentine



Sarwendah Kongtesha: Antara Pengabdian Dan Cinta
Saat mengajar anak_anak

            Rasa cinta dan kasih sayang yang begitu dalam terkadang akan membuat seseorang rela berkorban apa saja yang ada pada dirinya. Cinta dan kasih sayang yang dimiliki seseorang akan menuntut dirinya untuk sedikit berkorban. Seperti halnya yang terjadi pada Sarwendah Kongtesha. Endah, begitu ia disapa, memiliki kecintaan dan keprihatinan terhadap anak-anak pelosok negeri yang memiliki keterbatasan dalam mengakses sarana pendidikan. Kecintaanya terhadap anak-anak daerah pelosok membuat dirinya bertekat untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan.
            Wanita asal Manado, Sulawesi Utara ini merasa terpanggil untuk melayani anak-anak pelosok Indonesia setelah ia menyaksikan acara di televisi yang kala itu membahas tentang kisah para guru muda di pelosok Indonesia yang bergabung dalam program Indonesia Mengajar yang diprakarsai Anies Baswedan. Pasca lulus dari perguruan tinggi, wanita yang menyandang gelar Sarjana Matematika dari Universitas Manado angkatan 2013 ini langsung mendaftarkan dirinya dalam program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) yang diprakarsai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
            Hal yang dilakukan oleh Endah awalnya tidak direstui oleh sang ayah yang tidak rela anaknya ditempatkan di daerah yang sangat jauh seperti Papua dan NTT. Endah berusaha meyakinkan sang ayah akan pilihanya, hingga pada akhirnya sang ayah merestui niat baiknya tersebut.
            September 2013 menjadi awal petualangan Endah menjadi pengajar anak-anak di daerah pelosok. Siapa yang bisa menyangka kala itu dirinya ditempatkan di desa Wai Kela, kecamatan Adonara Tengah, kabupaten Flores Timur. Di pekan pertama keberadaanya di desa Wai Kela, Endah tinggal di rumah salah seorang kepala sekolah. Sebagai wanita muslimah, Endah mengaku tidak merasa risih dengan keadaan masyarakat desa yang hampir semuanya beternak babi. Bahkan ia mengaku bahwa masyarakat desa yang mayoritas memeluk agama Katolik menyarankan agar dirinya agar mengenakan hijab. Toleransi masyarakat inilah yang membuat dirinya betah dan dengan cepat berbaur dengan budaya masyarakat setempat.
            Sarwendah mengajar mata pelajaran Matematika di SMP Negeri 1 Desa Wai Kela Adonara Tengah. Pada awalnya ada enam  kelas yang diajarnya. Lalu ketika masuk guru tambahan ia hanya mengajar empat kelas. Tapi kemudian guru agama Islam ada halangan untuk mengajar, ia pun mengambil alih tugas  itu dan menjadi guru pelajaran agama Islam pula. Tugasnya bertambah saat dibukanya sekolah dasar baru di desanya, Sekolah Dasar Kristen Wai Bereno. Ia pun bergantian dengan seorang guru lainnya mengajar di sana.
Dedikasi yang luar biasa tanpa menghiraukan kondisi yang gelap gulita
Banyak waktu luang ia berikan untuk muridnya, mulai dari kerja bakti di hari libur, mengangkut air saat dimusim kemarau atau les-les tambahan di luar jam sekolah. Bahkan ia jadi bisa menghapal lagu-lagu rohani Kristen, karena murid-muridnya sehari-hari menyanyikan lagu itu yang diperoleh dari sekolah minggu.
Pendekatan personal yang dia lakukan membuat para murid hormat. Metoda pengajaran yang dia dapat dibangku kuliah ia terapkan dan membawa hasilnya efektif. Di sore hari murid-muridnya sudah menantinya di halaman sekolah SMP Negeri 1 di dekat rumahnya. Mereka meminta bimbingan pelajaran tambahan. Selepas senja barulah mereka belajar. Sering kali malam hari listrik padam, dan mereka menggunakan lilin untuk belajar. Keberadaan anak-anak ini menjadi hiburan tersendiri bagi Sarwendah. Karena baginya saat-saat yang menyedihkan tinggal di pelosok desa di Adonara, Flores Timur,  adalah saat bubar sekolah. Tak ada lagi suara murid-muridnya yang terdengar. Lingkungan rumahnya mendadak sunyi dan ia merasa sangat kesepian.
Dari potret kehidupan Sarwendah kita bisa melihat bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap sesuatu harus kita perjuangkan dan kita buktikan. Berbicara mengenai rasa cinta dan kasih sayang tidak terbatas pada lingkungan keluarga atau teman dekat saja. Rasa cinta dan kasih sayang yang kita miliki bisa kita berikan kepada siapa saja, tanpa memandang bulu, ras, suku, agama, satatus, atau kaya dan miskin. Semua orang berhak atas cinta dan kasih sayang kita. Tak perlu pula materi dan barang mewah untuk membuktikan rasa cinta dan kasih sayang itu. Cukup dengan perbuatan dan tutur kata, kita bisa mewujudkan cinta dan kasih sayang.
Pada moment Valentine tahun ini, kita semua diharapkan agar bisa meneladani sosok Sarwendah yang dengan rendah hati mengabdikan dirinya demi wujudkan kecintaannya terhadap orang-orang yang dikasihinya. Kita harus bisa keluar dari zona nyaman kita, seperti yang dilakukan Sarwendah di Adonara. Buang semua pikiran kita tentang segala macam perbedaan yang ada di tengah-tengah kita dan mulai menyatukan hati untuk membangun Indonesia yang penuh cinta. Semoga dengan semangat Valentine 2017 ini, rasa cinta dan kasih sayang yang tumbuh di Indonesia semakin besar hingga mampu mengalahkan semua masalah yang terjadi.

Referensi: nationalgeographic.co.id