Sarwendah
Kongtesha: Antara Pengabdian Dan Cinta
| Saat mengajar anak_anak |
Rasa cinta dan
kasih sayang yang begitu dalam terkadang akan membuat seseorang rela berkorban
apa saja yang ada pada dirinya. Cinta dan kasih sayang yang dimiliki seseorang
akan menuntut dirinya untuk sedikit berkorban. Seperti halnya yang terjadi pada
Sarwendah Kongtesha. Endah, begitu ia disapa, memiliki kecintaan dan
keprihatinan terhadap anak-anak pelosok negeri yang memiliki keterbatasan dalam
mengakses sarana pendidikan. Kecintaanya terhadap anak-anak daerah pelosok
membuat dirinya bertekat untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan.
Wanita asal Manado, Sulawesi Utara ini merasa terpanggil
untuk melayani anak-anak pelosok Indonesia setelah ia menyaksikan acara di
televisi yang kala itu membahas tentang kisah para guru muda di pelosok
Indonesia yang bergabung dalam program Indonesia Mengajar yang diprakarsai
Anies Baswedan. Pasca lulus dari perguruan tinggi, wanita yang menyandang gelar
Sarjana Matematika dari Universitas Manado angkatan 2013 ini langsung
mendaftarkan dirinya dalam program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar
dan Tertinggal (SM3T) yang diprakarsai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Hal yang dilakukan oleh Endah awalnya tidak direstui oleh
sang ayah yang tidak rela anaknya ditempatkan di daerah yang sangat jauh
seperti Papua dan NTT. Endah berusaha meyakinkan sang ayah akan pilihanya,
hingga pada akhirnya sang ayah merestui niat baiknya tersebut.
September 2013 menjadi awal petualangan Endah menjadi
pengajar anak-anak di daerah pelosok. Siapa yang bisa menyangka kala itu
dirinya ditempatkan di desa Wai Kela, kecamatan Adonara Tengah, kabupaten
Flores Timur. Di pekan pertama keberadaanya di desa Wai Kela, Endah tinggal di
rumah salah seorang kepala sekolah. Sebagai wanita muslimah, Endah mengaku
tidak merasa risih dengan keadaan masyarakat desa yang hampir semuanya beternak
babi. Bahkan ia mengaku bahwa masyarakat desa yang mayoritas memeluk agama
Katolik menyarankan agar dirinya agar mengenakan hijab. Toleransi masyarakat
inilah yang membuat dirinya betah dan dengan cepat berbaur dengan budaya
masyarakat setempat.
Sarwendah mengajar mata pelajaran Matematika di SMP
Negeri 1 Desa Wai Kela Adonara Tengah. Pada awalnya ada enam kelas yang
diajarnya. Lalu ketika masuk guru tambahan ia hanya mengajar empat kelas. Tapi
kemudian guru agama Islam ada halangan untuk mengajar, ia pun mengambil alih
tugas itu dan menjadi guru pelajaran agama Islam pula. Tugasnya bertambah
saat dibukanya sekolah dasar baru di desanya, Sekolah Dasar Kristen Wai Bereno.
Ia pun bergantian dengan seorang guru lainnya mengajar di sana.
| Dedikasi yang luar biasa tanpa menghiraukan kondisi yang gelap gulita |
Banyak
waktu luang ia berikan untuk muridnya, mulai dari kerja bakti di hari libur,
mengangkut air saat dimusim kemarau atau les-les tambahan di luar jam sekolah.
Bahkan ia jadi bisa menghapal lagu-lagu rohani Kristen, karena murid-muridnya
sehari-hari menyanyikan lagu itu yang diperoleh dari sekolah minggu.
Pendekatan
personal yang dia lakukan membuat para murid hormat. Metoda pengajaran yang dia
dapat dibangku kuliah ia terapkan dan membawa hasilnya efektif. Di sore hari
murid-muridnya sudah menantinya di halaman sekolah SMP Negeri 1 di dekat
rumahnya. Mereka meminta bimbingan pelajaran tambahan. Selepas senja barulah
mereka belajar. Sering kali malam hari listrik padam, dan mereka menggunakan
lilin untuk belajar. Keberadaan anak-anak ini menjadi hiburan tersendiri bagi
Sarwendah. Karena baginya saat-saat yang menyedihkan tinggal di pelosok desa di
Adonara, Flores Timur, adalah saat bubar sekolah. Tak ada lagi suara
murid-muridnya yang terdengar. Lingkungan rumahnya mendadak sunyi dan ia merasa
sangat kesepian.
Dari
potret kehidupan Sarwendah kita bisa melihat bahwa kecintaan dan kasih sayang
terhadap sesuatu harus kita perjuangkan dan kita buktikan. Berbicara mengenai
rasa cinta dan kasih sayang tidak terbatas pada lingkungan keluarga atau teman
dekat saja. Rasa cinta dan kasih sayang yang kita miliki bisa kita berikan
kepada siapa saja, tanpa memandang bulu, ras, suku, agama, satatus, atau kaya
dan miskin. Semua orang berhak atas cinta dan kasih sayang kita. Tak perlu pula
materi dan barang mewah untuk membuktikan rasa cinta dan kasih sayang itu.
Cukup dengan perbuatan dan tutur kata, kita bisa mewujudkan cinta dan kasih
sayang.
Pada
moment Valentine tahun ini, kita semua diharapkan agar bisa meneladani sosok
Sarwendah yang dengan rendah hati mengabdikan dirinya demi wujudkan
kecintaannya terhadap orang-orang yang dikasihinya. Kita harus bisa keluar dari
zona nyaman kita, seperti yang dilakukan Sarwendah di Adonara. Buang semua
pikiran kita tentang segala macam perbedaan yang ada di tengah-tengah kita dan
mulai menyatukan hati untuk membangun Indonesia yang penuh cinta. Semoga dengan
semangat Valentine 2017 ini, rasa cinta dan kasih sayang yang tumbuh di
Indonesia semakin besar hingga mampu mengalahkan semua masalah yang terjadi.
Referensi:
nationalgeographic.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar