Rabu, 01 Februari 2017

Inspirasi Valentine



Sarwendah Kongtesha: Antara Pengabdian Dan Cinta
Saat mengajar anak_anak

            Rasa cinta dan kasih sayang yang begitu dalam terkadang akan membuat seseorang rela berkorban apa saja yang ada pada dirinya. Cinta dan kasih sayang yang dimiliki seseorang akan menuntut dirinya untuk sedikit berkorban. Seperti halnya yang terjadi pada Sarwendah Kongtesha. Endah, begitu ia disapa, memiliki kecintaan dan keprihatinan terhadap anak-anak pelosok negeri yang memiliki keterbatasan dalam mengakses sarana pendidikan. Kecintaanya terhadap anak-anak daerah pelosok membuat dirinya bertekat untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan.
            Wanita asal Manado, Sulawesi Utara ini merasa terpanggil untuk melayani anak-anak pelosok Indonesia setelah ia menyaksikan acara di televisi yang kala itu membahas tentang kisah para guru muda di pelosok Indonesia yang bergabung dalam program Indonesia Mengajar yang diprakarsai Anies Baswedan. Pasca lulus dari perguruan tinggi, wanita yang menyandang gelar Sarjana Matematika dari Universitas Manado angkatan 2013 ini langsung mendaftarkan dirinya dalam program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) yang diprakarsai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
            Hal yang dilakukan oleh Endah awalnya tidak direstui oleh sang ayah yang tidak rela anaknya ditempatkan di daerah yang sangat jauh seperti Papua dan NTT. Endah berusaha meyakinkan sang ayah akan pilihanya, hingga pada akhirnya sang ayah merestui niat baiknya tersebut.
            September 2013 menjadi awal petualangan Endah menjadi pengajar anak-anak di daerah pelosok. Siapa yang bisa menyangka kala itu dirinya ditempatkan di desa Wai Kela, kecamatan Adonara Tengah, kabupaten Flores Timur. Di pekan pertama keberadaanya di desa Wai Kela, Endah tinggal di rumah salah seorang kepala sekolah. Sebagai wanita muslimah, Endah mengaku tidak merasa risih dengan keadaan masyarakat desa yang hampir semuanya beternak babi. Bahkan ia mengaku bahwa masyarakat desa yang mayoritas memeluk agama Katolik menyarankan agar dirinya agar mengenakan hijab. Toleransi masyarakat inilah yang membuat dirinya betah dan dengan cepat berbaur dengan budaya masyarakat setempat.
            Sarwendah mengajar mata pelajaran Matematika di SMP Negeri 1 Desa Wai Kela Adonara Tengah. Pada awalnya ada enam  kelas yang diajarnya. Lalu ketika masuk guru tambahan ia hanya mengajar empat kelas. Tapi kemudian guru agama Islam ada halangan untuk mengajar, ia pun mengambil alih tugas  itu dan menjadi guru pelajaran agama Islam pula. Tugasnya bertambah saat dibukanya sekolah dasar baru di desanya, Sekolah Dasar Kristen Wai Bereno. Ia pun bergantian dengan seorang guru lainnya mengajar di sana.
Dedikasi yang luar biasa tanpa menghiraukan kondisi yang gelap gulita
Banyak waktu luang ia berikan untuk muridnya, mulai dari kerja bakti di hari libur, mengangkut air saat dimusim kemarau atau les-les tambahan di luar jam sekolah. Bahkan ia jadi bisa menghapal lagu-lagu rohani Kristen, karena murid-muridnya sehari-hari menyanyikan lagu itu yang diperoleh dari sekolah minggu.
Pendekatan personal yang dia lakukan membuat para murid hormat. Metoda pengajaran yang dia dapat dibangku kuliah ia terapkan dan membawa hasilnya efektif. Di sore hari murid-muridnya sudah menantinya di halaman sekolah SMP Negeri 1 di dekat rumahnya. Mereka meminta bimbingan pelajaran tambahan. Selepas senja barulah mereka belajar. Sering kali malam hari listrik padam, dan mereka menggunakan lilin untuk belajar. Keberadaan anak-anak ini menjadi hiburan tersendiri bagi Sarwendah. Karena baginya saat-saat yang menyedihkan tinggal di pelosok desa di Adonara, Flores Timur,  adalah saat bubar sekolah. Tak ada lagi suara murid-muridnya yang terdengar. Lingkungan rumahnya mendadak sunyi dan ia merasa sangat kesepian.
Dari potret kehidupan Sarwendah kita bisa melihat bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap sesuatu harus kita perjuangkan dan kita buktikan. Berbicara mengenai rasa cinta dan kasih sayang tidak terbatas pada lingkungan keluarga atau teman dekat saja. Rasa cinta dan kasih sayang yang kita miliki bisa kita berikan kepada siapa saja, tanpa memandang bulu, ras, suku, agama, satatus, atau kaya dan miskin. Semua orang berhak atas cinta dan kasih sayang kita. Tak perlu pula materi dan barang mewah untuk membuktikan rasa cinta dan kasih sayang itu. Cukup dengan perbuatan dan tutur kata, kita bisa mewujudkan cinta dan kasih sayang.
Pada moment Valentine tahun ini, kita semua diharapkan agar bisa meneladani sosok Sarwendah yang dengan rendah hati mengabdikan dirinya demi wujudkan kecintaannya terhadap orang-orang yang dikasihinya. Kita harus bisa keluar dari zona nyaman kita, seperti yang dilakukan Sarwendah di Adonara. Buang semua pikiran kita tentang segala macam perbedaan yang ada di tengah-tengah kita dan mulai menyatukan hati untuk membangun Indonesia yang penuh cinta. Semoga dengan semangat Valentine 2017 ini, rasa cinta dan kasih sayang yang tumbuh di Indonesia semakin besar hingga mampu mengalahkan semua masalah yang terjadi.

Referensi: nationalgeographic.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar