Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2017

JEJAK PARA MARTIR



St. Valentinus: Memperjuangkan Hak Atas Cinta

            Dalam ajaran agama Katolik dikenal begitu banyak orang-orang kudus. Para kudus ini dalam agama Katolik digelar dengan nama santo/santa. Pandangan,teladan hidup, serta pengorbanan semasa hidup dari para orang kudus membuat para petinggi gereja memberi penghargaan berupa penobatan sebagai santo/santa. Bahkan untuk memperingati orang-orang kudus ini, gereja sudah menetapkannya dalam kalender Katolik. Pandangan serta teladan hidup dari para orang kudus ini telah membawa pengaruh besar dalam sejarah perkembangan gereja, bahakan dunia. Seperti halnya teladan dan pandangan hidup dari St. Valentinus.
            Valentinus merupakan seorang pendeta Kristen yang juga dikenal sebagai tabib (dokter) yang dermawan dan sangat memperhatikan kaum kecil. Valentinus hidup di salah satu kerajaan yang dipimpin oleh Kaisar Claudius yang dikenal sangat kejam. Kaisar Claudius diketahui berambisi memiliki pasukan militer yang kuat, dan oleh karenanya ia menginginkan semua pria yang ada dalam wilayah kerajaannya masuk ke dalam pasukan militer miliknya. Hal ini membuat Valentinus merasa geram dan sangat membenci sang Kaisar. Kaisar dianggap telah membatasi hak dan kebebasan dari rakyatnya.
            Menurut Valentinus, para pria saat itu memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari pada hanya sekedar bergabung dengan pasukan militer milik Kaisar. Kaum pria pada saat itu merupakan satu-satunya tulang punggung bagi kehidupan keluarganya. Dan apabila mereka diajak untuk bergabung dalam pasukan militer dan berperang untuk Kaisar, maka tidak dapat dihitung jumlah korban jiwa nantinya. Akibatnya keadaan keluarga yang ditinggalkan akan bertambah sulit, sementara Kaisar akan menikmati sendiri keberhasilannya. Pengaruh Valentinus ini ternyata diterima baik oleh para pria di kerajaan itu dan membuat mereka enggan meninggalkan keluarga dan bergabung dengan Kaisar.
            Hal ini memicu kemarahan yang dahsyat dari Caludius. Caludius berpikiran bahwa jika pria tidak menikah maka pasti mereka akan bergabung dalam pasukan militer miliknya. Seiring dengan munculnya pemikiran yang salah dari sang Kaisar, muncul pula niat jahatnya yang mengeluarkan kebijakan larangan kepada para pria untuk menikah. Mendengar hal ini, St.Valentinus semakin geram dan menolak perintah sang Kaisar. St.Valentinus menilai kebijakan sang Kaisar sangat tidak masuk akal dan tidak bias diterima.
            Dalam perjalanan selanjutnya, St.Valentinus yang menentang kebijakan Kaisar Claudius tetap melaksanakan tugasnya sebagai penggembala umat, yaitu menikahkan para pasangan yang sedang jatuh cinta meskipun secara diam-diam. Hingga pada akhirnya, Claudisus mengetahui apa  yang telah dilakukan oleh St.Valentinus, namun pada saat itu Kaisar Claudius masih memaafkan St.Valentinus dan hanya memberi peringatan saja. Nampaknya peringatan sang Kaisar tidak di dengar oleh Valentinus. Ia tetap saja memberi sakramen perkawinan kepada rakyat kerajaan.
            Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentinus tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya.
Sejak kematian Valentine (14 februari 269M), kisahnya menyebar dan meluas, hingga tidak satu pelosok pun di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan nenek mendongengkan cerita Santo Valentinus pada anak dan cucunya sampai pada tingkat pengkultusan.
Ketika agama Katolik mulai berkembang, para pemimipin gereja ingin turut andil dalam peran tersebut. Untuk mensiasatinya, mereka mencari tokoh baru sebagai pengganti Dewa Kasih Sayang, Lupercus (Romawi Kuno). Akhirnya mereka menemukan pengganti Lupercus, yaitu St.Valentine.
Di tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara Lupercaria (Romawi Kuno) yang dilaksanakan setiap 15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun kemudian, sang Paus mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan tanggal matinya Santo Valentinus sebagai bentuk penghormatan dan pengkultusan kepada Santo Valentinus. Dengan demikian perayaan Lupercaria sudah tidak ada lagi dan diganti dengan "Valentine Days."
Dari cerita singkat mengenai perjalan hidup St.Valentinus kita bisa mengetahui salah satu dasar history perayaan hari Valentine. Selain itu, hal yang paling penting yang harus kita petik dari tauladan hidup St.Valentinus adalah perjuanganya dalam memberi ha katas cinta kepada umatnya. Kita harus mengetahui bahwa semua orang berhak atas cinta dan kita sebagai manusia tidak boleh membatasi hal tersebut. Kita harus saling mendukung satu sama lain dan harus saling membagi cinta kepada sesama.


Jumat, 27 Januari 2017

Sosok



ETTO TAGUR: ART IS PASSION
Etto saat penampilan di Jakarta
            Berbicara mengenai potensi minat dan bakat dalam bidang seni yang dimiliki oleh putra putri Manggarai nampaknya tidak akan pernah ada habisnya. Berbagai macam cara dilakukan oleh para generasi muda dalam bidang seni untuk mengangkat nama Manggarai, seperti yang dilakukan oleh Gregorius S.M. Tagur.
            Di kalangan teman-teman sepermainannya Gregorius akrab disapa Etto. Etto merupakan anak kedua dari pasangan suami istri Kristianus Tagur (Alm) dan Maria Fatimah Juwarni. Etto memiliki dua orang saudari yang bernama Mectildis Alfiani Tgur dan Alfonsia Marcelita Tagur. Etto dikenal memiliki segudang prestasi dalam dunia seni, seperti dalam seni tarik suara, seni tari, dan seni drama.
            Pada awalnya pria kelahiran 3 September 1996 ini sama sekali tidak menyadari bahwa ada bakat seni yang mengalir dalam darahnya. Kehidupannya yang berada di tengah keluarga yang aktif dalam paduan suara Gereja di lingkungan tempat tinggalnya perlahan mempengaruhi dirinya untuk terjun lebih jauh dalam dunia seni. Sejak kelas 4 SD, Etto sudah diperkenalkan dalam dunia seni dan pada saat itu ia dipercaya untuk memimpin paduan suara (koor) di sekolahnya. Dalam perjalanan selanjutnya, pria yang menempuh pendidikan dasar di SDK Cunca Lawir ini tidak hanya menjadi dirgen sebuah paduan suara, ia diberikan kepercayaan untuk menjadi lector dan pembaca mazmur di Gereja. Masih di bangku kelas 6 sekolah dasar, Etto pernah mengikuti kontes bernyanyi bertajuk Ruteng Idol yang pada saat itu salah satu tim jurinya adalah penyanyi top di Indonesia Judika. Alhasil Etto meraih juara ketiga pada ajang bergengsi tersebut.
Sesaat setelah penampilan di Thailand
           Namun sebagai manusia yang tidak pernah puas akan pencapainnya, perjalanan Etto dalam dunia seni masih berlanjut ketika ia duduk di bangku SMP. Ketika itu Etto masuk ke salah satu SMP swasta di Ruteng, yaitu SMPK St. Fransiskus Xaverius. Dibawah bimbingan gurunya bapak Hilarius Niron dan ibu Kristina Ganggur, Etto mengikuti kompetisi Pekan Seni Remaja dan meraih juara dua. Setelah itu, Etto tetap aktif dalam kelompok paduan suaranya.
            Cerita yang sedikit berbeda terjadi semasa Etto SMA, dimana pada saat itu SMAN 1 Langke Rembong tempat ia bersekolah kurang mengedepankan sisi minat dan bakat dari siswanya. Hal ini praktis membuat Etto menjalani talenta yang ia miliki melalui wadah paduan suara. Tercatat Etto tergabung dalam dua paduan suara, yaitu : Ruteng Madrigal Singer dibawah pimpinan Pater Piet Pedo Neo,SVD dan Cantate Domino yang berbasis di Gereja St. Vitalis, Cewonikit Ruteng.
            Cerita manis perjalanan dalam mengasah talenta yang dimiliki Etto berawal ketika ia memutuskan melanjutkan pendidikannya di Pulau Dewata Bali. Terinspirasi dari sang kakak, ditambah motivasi oleh kedua orang tuanya, Etto memutuskan untuk masuk Institut Seni Indonesia Bali (ISI-Bali) mengambil jurusan Seni Drama Tari dan Musik (SENDRATASIK), Fakultas Seni Pertunujukkan. Walaupun harus sedikit tertatih akibat kepergian sang ayahanda menghadap sang pencipta, tapi dengan tekat yang bulat Etto tetap berjuang demi meraih cita-citanya. Perjalanan panjang Etto di Pulau Dewata dimulai ketika ia bergabung dengan salah satu komunitas seni vocal Voice Of Bali pada tahun 2014. Dalam komunitas ini, Etto bertemu dengan orang-orang dari berbagai penjuru di Indonesia. Karena dikenal sebagai pribadi yang ramah dan rendah hati serta memiliki kemampuan olah vocal yang mumpuni, tak jarang Etto diajak oleh beberapa orang temannya di Voice Of Bali untuk menyumbang suara emasnya pada event-event wedding. Dari event-event tersebut Etto memperoleh sedikit rupiah untuk memenuhi kebutuhannya di Bali.
Etto saat penampilan dalam Gita Bahana Nusantara di Istana Negara
           Puncak keberhasilan Etto dalam dunia seni dimulai ketika pada tahun 2015 dirinya dipercayai oleh Pemerintah Provinsi Bali untuk mewakili Bali pada ajang Gita Bahana Nusantara di Istana Kepresidenan tanggal 17 Agustus 2015. Di Jakarta ia bergabung bersama utusan dari 33 provinsi lainnya di Indonesia. Walaupun terpilih sebagai wakil dari Provinsi Bali, akan tetapi pada saat itu Etto merasakan pemerintah setempat kurang memberi dukungan terhadap dirinya. Pemerintah Bali diketahui hanya menanggung tiket transportnya saja, sementara keperluan Etto selama di Jakarta harus ia penuhi sendiri ditambah dari hasil patungan teman-temannya di Voice Of Bali. Namun hal ini tidak menjadi sebuah masalah besar bagi dirinya.
            Tahun keberuntungan Etto nampaknya terjadi di tahun 2016. Pada tahun ini lagi-lagi mahasiswa ISI-Bali ini mengikuti kompetisi vocal bersama group paduan suara dari Voice Of Bali yang kali ini berlokasi di Thailand. Pada event akbar yang bertajuk 1st Laana Intenational Choir Competition ini, Etto dan Voice Of Bali meraih dua medali emas dari kategori Mix Choir dan Folklor. Tidak hanya gelar berkelompok, gelar pribadinya di tahun ini pun ia raih dari ajang Bintang Radio Bali yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI-Bali) dan kali ini dia meraih juara ketiga. Pada bulan Oktober 2017 yang akan datang, sekali lagi Etto bersama Voice Of Bali akan terbang menuju tanah Catalan, Barcelona untuk mengikuti kompetisi paduan suara.
Penampilan Etto dalam pementasan drama musical
            Tidak hanya dalam dunia tarik suara ia memiliki prestasi. Di tahun 2016 sendiri Etto tercatat tiga kali tampil sebagai figure dalam sebah pementasan drama musical yang diselenggarakan di kampus maupun di luar kampus. Pada penampilan pertamanya, ia didaulat menjadi figure Captain Hook dalam drama musical berjudul Peterpan di event Soundwave Paradise. Etto sukses menjalankan perannya dengan baik dibawah arahan maestro opera Bali, ibu Henny Janawati. Masih di tahun yang sama, ia ikut dalam pementasan drama musical pertama hasil produksi ISI-Bali yang berjudul Ni Diah Tantri. Pementasan yang kali ini menjadi salah satu paket acara dalam event Bali Mahalanga ini menceritakan kehidupan kerajaan masa lampau di Bali dan kali ini Etto dipercayai menjadi sang Patih kerajaan.
Etto dalam lakon Pondik pada pementasan drama musical di ISI-Bali
            Namun, dari sekian banyak prestasi yang diraihnya, hal yang sangat berkesan bagi Etto adalah keberhasilan dirinya dalam mengangkat salah satu cerita rakyat Manggarai dalam sebuah pertunjukkan drama musical di kampusnya. Cerita yang diambil adalah cerita tentang figure si Pondik yang memiliki karakter malas dan urak-urakan. Drama musikalnya kali ini mengundang simpatik dari kalangan dosen dan teman-temannya. Ia mengakui bahwa dirinya sangat bangga mengangkat cerita rakyat Manggarai yang akhir-akhir ini sudah mulai hilang akibat perkembangan zaman.
            Sebagai seorang mahasiswa, Etto memberikan sepenggal kalimat yang dapat dijadikan motivasi untuk generasi muda, “terkadang orang pintar bisa dikalahkan oleh orang berani.” Disini ia menghimbau kepada generasi muda agar jangan hanya mengejar untuk menjadi orang pintar. Jadilah orang berani, orang yang berani memperjuangkan apa yang diyakininya dan orang yang berani memperjuangkan apa yang dimilikinya (bakat). Untuk orang tua dan pemerintah di Manggarai Etto memberi saran agar jangan takut jika anaknya ingin memperdalam pengetahuan dalam bidang seni. Seni yang sebenarnya bukanlah sekedar hiburan semata. Segi dalam akademik terdiri dari berbagai macam komponen yang suatu saat dapat berguna bagi kehidupan generasi muda di masa yang akan datang. Untuk pemerintah agar sebanyak-banyaknya menyiapkan wadah bagi generasi muda untuk menuangkan segala macam ide dan kreatifitasnya.
             









Sabtu, 21 Januari 2017

SOSOK



Aleta Baun: Wanita Hebat Dari Nusa Tenggara Timur




Mama Aleta Baun
Pembuktian bahwa wanita mampu untuk menjadi orang yang berpengaruh di tengah-tengah masyarakat nampaknya telah berhasil dilakukan oleh Aleta Baun. Aleta Baun merupakan perempuan asal Nusa Tenggara Timur yang lahir pada tanggal 16 Maret 1966 di Lelobatan, Molo, Timor Tengah Selatan. Mama Aleta merupakan salah satu aktivis lingkungan untuk hak-hak masyarakat adat penentang penambangan marmer di Nusa Tenggara Timur.  
            Perlawanan Mama Aleta terhadap kegiatan penambangan marmer di NTT bermula ketika pada tahun 1980-an pemerintah secara illegal menerbitkan izin untuk melakukan kegiatan pertambangan kepada perusahaan-perusahaan marmer. Setelah izin diberikan oleh pemerintah, perusahaan-perusahaan ini pun memulai kegiatan pertambangan mereka di NTT. Perusahaan-perusahaan ini mulai menambang marmer di kawasan gunung keramat suku Molo. Kegiatan pertambangan yang dilakukan tanpa adanya diskusi dengan masyarakat setempat nampaknya mengakibatkan kerusakan yang sangat parah pada lingkungan di sekitar gunung keramat suku Molo. Alhasil terjadilah penggundulan hutan, tanah longsor, sungai tercemar, yang dimana sumber daya alam tersebut merupakan asset yang sangat berharga bagi masyarakat setempat.
            Melihat keadaan yang sedemikian rupa, hati Mama Aleta tergerak dan ia berniat untuk memperbaiki kembali lingkungan alam NTT yang sudah rusak akibat kegiatan pertambangan marmer. Kemudian pada tahun 1990-an Mama Aleta memutuskan untuk melakukan perlawanan terhadap kegiatan penambangan di NTT dengan cara menggalang dukungan masyarakat dari desa ke desa. Selama 11 tahun perjalanannya dalam menggalang dukungan masyarakat, Mama Aleta berada dalam bayang-bayang ancaman pembunuhan dari perusahaan penambangan yang membuat ia sempat lari bersembunyi di hutan.
            Puncak perlawanan Mama Aleta terjadi pada tahun 2006. Ketika itu ia berhasil menggalang dukungan dari ratusan warga desa. Tindakan nyata yang mereka lakukan pada waktu itu adalah menenun di depan pintu tambang yang diikuti oleh 150 wanita selama satu tahun. Usaha keras Mama Aleta dan para wanita ini membuahkan hasil, di luar dugaan mereka mendapat banyak dukungan dari masyarakat dalam dan luar negeri. Dengan adanya desakan ini, akhirnya pada tahun 2007  kegiatan penambangan dihentikan dan tahun 2010 perusahaan-perusahaan ini menarik diri dari NTT.
            Tidak hanya sampai disitu saja usaha yang dilakukan oleh Mama Aleta dalam memperjuangkan lingkungan hidup di wilayah NTT. Pasca kejadian di Molo, Mama Aleta meneruskan perjuangannya ke NTT bagian barat. Disana ia memprogramkan pemetaan hutan tradisional serta menolak segala macam kegiatan pertambangan.
            Atas upaya dan kerja kerasnya dalam memperjuangkan dan memelihara lingkungan hidup, pada 15 April 2013 Mama Aleta diundang ke San Fransisco dalam satu upacara khusus untuk menerima penghargaan Goldman Environmental Prize 2013. Goldman Environmental Prize 2013 merupakan hadiah lingkungan hidup yang diberikan setiap tahunnya kepada para pahlawan lingkungan hidup yang mewakili masing-masing enam kawasan besar di dunia. Dan yang mewakili Asia Tenggara saat itu adalah Mama Aleta.
            Prestasi yang diraih oleh Mama Aleta dapat membuktikan bahwa kaum perempuan juga bisa merubah dunia dan memperjuangkan dunia. Oleh karena itu, hendaknya segala tindakan yang mengintimidasi kaum wanita saat ini dilenyapkan dari muka bumi. Dan jadikanlah Mama Alenta sebagai sosok yang menginspirasi kerasnya memperjuangkan kehidupan. Saat ini Mama Aleta memasuki babak baru perjuangannya untuk lingkungan dengan menjadi anggota DPRD NTT periode 2014-2019.