St.
Valentinus: Memperjuangkan Hak Atas Cinta
Dalam
ajaran agama Katolik dikenal begitu banyak orang-orang kudus. Para kudus ini
dalam agama Katolik digelar dengan nama santo/santa. Pandangan,teladan hidup,
serta pengorbanan semasa hidup dari para orang kudus membuat para petinggi
gereja memberi penghargaan berupa penobatan sebagai santo/santa. Bahkan untuk
memperingati orang-orang kudus ini, gereja sudah menetapkannya dalam kalender
Katolik. Pandangan serta teladan hidup dari para orang kudus ini telah membawa
pengaruh besar dalam sejarah perkembangan gereja, bahakan dunia. Seperti halnya
teladan dan pandangan hidup dari St. Valentinus.
Valentinus
merupakan seorang pendeta Kristen yang juga dikenal sebagai tabib (dokter) yang
dermawan dan sangat memperhatikan kaum kecil. Valentinus hidup di salah satu
kerajaan yang dipimpin oleh Kaisar Claudius yang dikenal sangat kejam. Kaisar Claudius
diketahui berambisi memiliki pasukan militer yang kuat, dan oleh karenanya ia
menginginkan semua pria yang ada dalam wilayah kerajaannya masuk ke dalam
pasukan militer miliknya. Hal ini membuat Valentinus merasa geram dan sangat
membenci sang Kaisar. Kaisar dianggap telah membatasi hak dan kebebasan dari
rakyatnya.
Menurut
Valentinus, para pria saat itu memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari pada
hanya sekedar bergabung dengan pasukan militer milik Kaisar. Kaum pria pada
saat itu merupakan satu-satunya tulang punggung bagi kehidupan keluarganya. Dan
apabila mereka diajak untuk bergabung dalam pasukan militer dan berperang untuk
Kaisar, maka tidak dapat dihitung jumlah korban jiwa nantinya. Akibatnya keadaan
keluarga yang ditinggalkan akan bertambah sulit, sementara Kaisar akan
menikmati sendiri keberhasilannya. Pengaruh Valentinus ini ternyata diterima
baik oleh para pria di kerajaan itu dan membuat mereka enggan meninggalkan
keluarga dan bergabung dengan Kaisar.
Hal
ini memicu kemarahan yang dahsyat dari Caludius. Caludius berpikiran bahwa jika
pria tidak menikah maka pasti mereka akan bergabung dalam pasukan militer
miliknya. Seiring dengan munculnya pemikiran yang salah dari sang Kaisar,
muncul pula niat jahatnya yang mengeluarkan kebijakan larangan kepada para pria
untuk menikah. Mendengar hal ini, St.Valentinus semakin geram dan menolak
perintah sang Kaisar. St.Valentinus menilai kebijakan sang Kaisar sangat tidak
masuk akal dan tidak bias diterima.
Dalam
perjalanan selanjutnya, St.Valentinus yang menentang kebijakan Kaisar Claudius
tetap melaksanakan tugasnya sebagai penggembala umat, yaitu menikahkan para
pasangan yang sedang jatuh cinta meskipun secara diam-diam. Hingga pada
akhirnya, Claudisus mengetahui apa yang
telah dilakukan oleh St.Valentinus, namun pada saat itu Kaisar Claudius masih
memaafkan St.Valentinus dan hanya memberi peringatan saja. Nampaknya peringatan
sang Kaisar tidak di dengar oleh Valentinus. Ia tetap saja memberi sakramen
perkawinan kepada rakyat kerajaan.
Sampai
pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan
tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentinus tertangkap. Ia
dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal
kepalanya.
Sejak kematian
Valentine (14 februari 269M), kisahnya menyebar dan meluas, hingga tidak satu
pelosok pun di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya.
Kakek dan nenek mendongengkan cerita Santo Valentinus pada anak dan cucunya
sampai pada tingkat pengkultusan.
Ketika agama Katolik
mulai berkembang, para pemimipin gereja ingin turut andil dalam peran tersebut.
Untuk mensiasatinya, mereka mencari tokoh baru sebagai pengganti Dewa Kasih
Sayang, Lupercus (Romawi Kuno). Akhirnya mereka menemukan pengganti Lupercus,
yaitu St.Valentine.
Di tahun 494 M, Paus
Gelasius I mengubah upacara Lupercaria (Romawi Kuno) yang dilaksanakan setiap
15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun kemudian, sang Paus
mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan
tanggal matinya Santo Valentinus sebagai bentuk penghormatan dan pengkultusan
kepada Santo Valentinus. Dengan demikian perayaan Lupercaria sudah tidak ada
lagi dan diganti dengan "Valentine Days."
Dari cerita singkat
mengenai perjalan hidup St.Valentinus kita bisa mengetahui salah satu dasar
history perayaan hari Valentine. Selain itu, hal yang paling penting yang harus
kita petik dari tauladan hidup St.Valentinus adalah perjuanganya dalam memberi ha
katas cinta kepada umatnya. Kita harus mengetahui bahwa semua orang berhak atas
cinta dan kita sebagai manusia tidak boleh membatasi hal tersebut. Kita harus saling
mendukung satu sama lain dan harus saling membagi cinta kepada sesama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar