Selasa, 31 Januari 2017

Opini



VALENTINE DAY: Bukan Hanya Sekedar Kado Dan Pacar



            Tak terasa kita sudah memasuki bulan Februari, bulan yang dimaknai sebagai bulan yang penuh cinta. Tanggal 14 pada bulan ini merupakan tanggal yang sangat ditunggu-tunggu oleh kalangan muda di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Pada tanggal 14 Februari ini masyarakat dunia akan merayakan hari valentine atau yang lebih kerenya valentine day. Namun, tahukah kita apa sebenarnya makna dibalik peringatan hari kasih sayang ini?
            Dewasa ini, banyak orang yang salah mengartikan makna dari perayaan valentine. Valentine, terutama di Indonesia sangat identik dengan kado dan pasangan yang sedang kasmaran. Selama hari-hari menjelang perayaan valentine, orang akan berbondong-bondong berburu barang istimewa yang akan diberikan kepada orang yang dikasihinya. Segala macam bentuk dan ukuran kado akan dikemas sedemikian cantik dan menariknya agar si penerima merasa terkesan. Bagi para remaja yang sedang kasmaran, harus rela menyisihkan sebagian uang sakunya untuk membeli kado bagi pasanganya. Kado yang diinginkanpun sangat terkesan tidak bermakna apa-apa karena hanya nilai materi saja yang diutamakan.
            Fakta miris sering kali terjadi di Indonesia pasca hari valentine. Begitu banyak remaja Indonesia yang mengalami situasi galau pasca merayakan valentine. Banyak faktor yang mempengaruhi kegalauan dari para remaja, misalnya kado yang didapat dari sang pacar tidak sesuai keinginan, atau tidak mendapat kado sama sekali dari orang tersayang, dan masih banyak faktor lain. Terkadang kegalauan remaja ini berujung pada kandasnya hubungan yang mereka jalani. Ketika hubungan percintaan berakhir, maka itu merupakan pertanda berakhirnya juga hubungan pertemanan. Hal ini tentunya sangat berefek negatif bila terus dibiarkan.
            Lain kado, lain pula bagi mereka yang jomblo. Para jomblo menganggap bahwa hari valentine merupakan hari dimana mimpi buruk terjadi. Para jomblo yang pikiranya begitu sempit akan mengira bahwa dunia tidak lagi bersahabat dengan mereka di hari valentine. Hal ini dikarenakan adanya pemahaman yang salah terhadap perayaan valentine. Orang Indonesia cenderung mengartikan valentine sebagai hari spesial bagi dua sejoli yang sedang kasmaran. Pemahaman yang salah terkait makna hari valentine ini harus bisa diubah oleh orang Indonesia, terlebi khusus bagi kalangan remaja.
            Sesungguhnya valentine lebih dari sekedar kado dan pacar. Valentine memiliki makna yang jauh lebih besar dan lebih dalam dari pada sekedar kado dan pacar. Sebenarnya hari kasih sayang itu bisa kita rayakan setiap hari. Hanya saja ceremoni secara universalnya kita rayakan setiap tanggal 14 Februari. Hari valentine sebenarnya ingin mengajak kita untuk selalu menebarkan kasih sayang kepada siapa saja yang ada bersama kita. Valentine bukan hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki pasangan, tetapi bagi semua orang di dunia ini. Kita bisa mewujudkan bentuk kasih sayang kita kepada siapa saja yang ada di sekitar kita, seperti orang tua, keluarga, teman, guru, dan yang lainnya.
            Lalu apa saja yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan kasih sayang kita pada orang sekitar kita?? Banyak hal yang bisa kita berikan kepada orang di sekitar, tidak hanya kado mewah dan mahal. Dengan sikap dan tutur kata kita yang santun kita sudah menunjukkan rasa syang kita terhadap sesama kita. Sikap dan tutur kata yang keluar dari dalam diri kita jauh lebih berharga dari pada kado mewah dan mahal yang selalu kita inginkan.
            Jadi mulai sekarang kita sebagai insan muda Indonesia harus merubah pemahaman kita terhadap hari valentine. Hari valentine itu bukan sekedar kado dan pacar saja, melainkan perwujudan rasa syang kita terhadap sesama. Kado dan materi lain hanya sebagai media dan pelengkapnya saja.
           

Minggu, 29 Januari 2017

Inspirasi



Peter Agung: Pentingnya Manajemen Diri Bagi Calon Mahasiswa
Foto: Peter Agung
            Berbicara mengenai manajemen diri berarti berbicara tentang bagaimana kita mengatur pola kehidupan kita, entah itu dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, dan sebagainya. Manajemen diri sangat dibutuhkan oleh seseorang, terutama para generasi muda yang merupakan tumpuan harapan bangsa. Manajemen diri dapat menentukan kesuksesan seseorang dalam melakukan usaha untuk membangun dirinya.
            Adalah Petrus G.Agung seorang putra Manggarai yang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali yang sudah merasakan buah manis dari manajemen diri yang dilakukanya. Bungsu dari empat bersaudara pasangan bapak Benyamin Nasor dan ibu Natalia Din ini pada awalnya sama sekali tidak memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikanya dalam dunia kedokteran. Pasca menuntaskan pendidikan manengah atasnya di SMAK St.Fransiskus Xaverius Ruteng, pria kelahiran Pateng, 5 Juli 1993 ini berniat ingin mengambil jurusan Akuntansi karena pada saat itu ia merasa mampu untuk melanjutkan pendidikannya di jurusan tersebut. Alhasil pada tahun 2011 Peter mengikuti tes SNMPTN di Yogyakarta dengan jurusan yang dipilih kala itu adalah IPC dan Akuntansi.
            Nampaknya dewi fortuna belum berada di pihak Peter saat itu. Ia dinyatakan tidak lulus dalam tes ini. Namun hal ini tidak mematahkan semangat Peter untuk terus berjuang. Peter menyadari kegagalannya kali ini akibat kurangnya persiapan dan informasi yang diperolehnya terkait SNMPTN. Kegagalannya kali ini memotivasi dirinya untuk memanajemen dirinya lebih baik lagi serta untuk mempersiapkan tes berikutnya di tahun 2012. Waktu satu tahun yang dimiliki oleh Peter dimaksimalkan untuk mengikuti bimbingan belajar di salah satu lembaga di Yogyakarta dalam rangka mempersiapkan diri untuk tes SNMPTN di tahun 2012.
            Setahun berlalu dan akhirnya Peter kembali mengikuti tes yang sama dan kali ini dia masih menempatkan Akuntansi di pilihan utama serta kedokteran di pilihan kedua. Tanpa disangka Peter dinyatakan lulus dan diterima sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Udayana dan menjadikanya sebagai satu-satunya orang Manggarai yang masuk ke Fakultas Kedokteran Di Udayana Bali. Walaupun awalnya agak kecewa karena masih belum bisa masuk ke jurusan akuntansi serta kekawatiran akan biaya kuliah yang besar untuk menjadi seorang dokter, tetapi Peter optimis dan penuh keyakinan menjalani apa yang sudah diraihnya.
            Ternyata biaya kuliah Peter di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali tidak sebesar apa yang diceritakan dan diinformasikan oleh orang-orang. Menurut Peter biaya kuliah kedokteran di Udayana masih terjangkau oleh masyarakat dengan tingkatan ekonomi menengah kebawah. Apalagi ditambah dengan sistem UKT berdasarkan golongan yang ditambah dengan beberapa beasiswa. Hingga saat ini Peter tercatat sebagai penerima beasiswa PPA dari pihak kampus. Satu-satunya kesulitan yang dihadapi Peter selama kuliah adalah adaptasi dan rasa minder.
            Saat ini Peter tengah menjalani koasnya di RSUD Sanglah, Denpasar, dan apabila tidak ada halangan yang merintang Peter akan resmi menjadi dokter di bulan Desember 2017. Ini merupakan buah manis perjuangan Peter yang dengan rendah hati menjalani setiap suka duka selama perkuliahan. Berangkat dari apa yang dialaminya, Peter memberikan beberapa poin penting yang dapat menjadi motivasi calon mahasiswa dari Manggarai terkait memanajemen diri.
Pertama, bahwa calon mahasiswa terlebih dahulu harus mengetahui potensi apa yang ada dalam dirinya dan bagaimana cara mengembangkan potensi tersebut. Setelah mengetahui tentang potensi yang dimiliki, buatlah perencanaan dan persiapan untuk menentukan jurusan yang kita pilih selanjutnya. Jangan pernah memilih jurusan hanya karena mengikuti teman, murah, atau jurusan yang dianggap gampang. Pilihlah jurusan yang nantinya dapat menjanjikan bagi kehidupan di masa mendatang.
Kedua, ketika calon mahasiswa memutuskan untuk menempuh pendidikan di luar Manggarai sebisa mungkin untuk meninggalkan egonya. Di daerah orang kita akan dihadapkan pada perbedaan budaya dan persepsi. Keadaan ini akan membuat kita menjadi minder yang berakibat pada kurangnya semangat juang dalam belajar. Hal yang harus kita lakukan adalah berusaha berbaur dengan memanfaatkan berbagai wadah seperti organisasi-organisasi mahasiwa, olahraga, maupun komunitas lainnya.
 Ketiga, calon mahasiswa harus bisa bersikap selektif dalam segala hal, terutama dalam memilih teman bergaul. Kita harus bisa membedakan mana teman yang bisa mendukung kita dalam menjalani tujuan kita selama kuliah dan mana teman yang bisa membawa kita pada hal-hal negatif. Apabila kita salah dalam memilih pergaulan, maka kita akan gagal untuk usaha kedepanya.
Keempat, jangan pernah malu dan takut untuk bertanya dan mencari informasi. Informasi merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh mahasiswa. Informasi apapun itu pasti sangat berguna untuk mahasiswa.
Selain motivasi untuk calon mahasiswa, Peter juga memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk para orang tua di Manggarai yang masih memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Ini merupakan hal yang sangat positif yang dimiliki masyarakat Manggarai. Bagi orang tua Manggarai keadaan ekonomi tidak lagi menjadi penghalang untuk memberikan pendidikan setinggi-tingginya kepada anak-anak mereka. Sekarang tinggal bagaimana motivasi dari para orang tua dalam mendukung dan memberi pemahaman pada anak-anak mereka.
Pada bagian akhir sekali lagi Peter menegaskan bahwa manajemen diri itu sangat penting dilakukan oleh generasi muda Manggarai. Generasi muda Manggarai memiliki potensi yang sangat besar bahkan jauh lebih baik dibanding anak-anak dari kota-kota besar. Sangat disayangkan jika potensi sebesar ini tidak dikembangkan. Dan jangan pernah menganggap kuliah itu sebagai beban. Selain itu, Peter menegaskan bahwa dalam perkuliahan tidak ada jurusan yang lebih superior atau istimewa. Semua jurusan itu sama baiknya. Pada zaman modern seperti sekarang, jurusan tidak menentukan keberhasilan seseorang. Yang dibutuhkan sekarang adalah kemampuan dari individu sesuai dengan tuntutan zaman.

                       

Jumat, 27 Januari 2017

Sosok



ETTO TAGUR: ART IS PASSION
Etto saat penampilan di Jakarta
            Berbicara mengenai potensi minat dan bakat dalam bidang seni yang dimiliki oleh putra putri Manggarai nampaknya tidak akan pernah ada habisnya. Berbagai macam cara dilakukan oleh para generasi muda dalam bidang seni untuk mengangkat nama Manggarai, seperti yang dilakukan oleh Gregorius S.M. Tagur.
            Di kalangan teman-teman sepermainannya Gregorius akrab disapa Etto. Etto merupakan anak kedua dari pasangan suami istri Kristianus Tagur (Alm) dan Maria Fatimah Juwarni. Etto memiliki dua orang saudari yang bernama Mectildis Alfiani Tgur dan Alfonsia Marcelita Tagur. Etto dikenal memiliki segudang prestasi dalam dunia seni, seperti dalam seni tarik suara, seni tari, dan seni drama.
            Pada awalnya pria kelahiran 3 September 1996 ini sama sekali tidak menyadari bahwa ada bakat seni yang mengalir dalam darahnya. Kehidupannya yang berada di tengah keluarga yang aktif dalam paduan suara Gereja di lingkungan tempat tinggalnya perlahan mempengaruhi dirinya untuk terjun lebih jauh dalam dunia seni. Sejak kelas 4 SD, Etto sudah diperkenalkan dalam dunia seni dan pada saat itu ia dipercaya untuk memimpin paduan suara (koor) di sekolahnya. Dalam perjalanan selanjutnya, pria yang menempuh pendidikan dasar di SDK Cunca Lawir ini tidak hanya menjadi dirgen sebuah paduan suara, ia diberikan kepercayaan untuk menjadi lector dan pembaca mazmur di Gereja. Masih di bangku kelas 6 sekolah dasar, Etto pernah mengikuti kontes bernyanyi bertajuk Ruteng Idol yang pada saat itu salah satu tim jurinya adalah penyanyi top di Indonesia Judika. Alhasil Etto meraih juara ketiga pada ajang bergengsi tersebut.
Sesaat setelah penampilan di Thailand
           Namun sebagai manusia yang tidak pernah puas akan pencapainnya, perjalanan Etto dalam dunia seni masih berlanjut ketika ia duduk di bangku SMP. Ketika itu Etto masuk ke salah satu SMP swasta di Ruteng, yaitu SMPK St. Fransiskus Xaverius. Dibawah bimbingan gurunya bapak Hilarius Niron dan ibu Kristina Ganggur, Etto mengikuti kompetisi Pekan Seni Remaja dan meraih juara dua. Setelah itu, Etto tetap aktif dalam kelompok paduan suaranya.
            Cerita yang sedikit berbeda terjadi semasa Etto SMA, dimana pada saat itu SMAN 1 Langke Rembong tempat ia bersekolah kurang mengedepankan sisi minat dan bakat dari siswanya. Hal ini praktis membuat Etto menjalani talenta yang ia miliki melalui wadah paduan suara. Tercatat Etto tergabung dalam dua paduan suara, yaitu : Ruteng Madrigal Singer dibawah pimpinan Pater Piet Pedo Neo,SVD dan Cantate Domino yang berbasis di Gereja St. Vitalis, Cewonikit Ruteng.
            Cerita manis perjalanan dalam mengasah talenta yang dimiliki Etto berawal ketika ia memutuskan melanjutkan pendidikannya di Pulau Dewata Bali. Terinspirasi dari sang kakak, ditambah motivasi oleh kedua orang tuanya, Etto memutuskan untuk masuk Institut Seni Indonesia Bali (ISI-Bali) mengambil jurusan Seni Drama Tari dan Musik (SENDRATASIK), Fakultas Seni Pertunujukkan. Walaupun harus sedikit tertatih akibat kepergian sang ayahanda menghadap sang pencipta, tapi dengan tekat yang bulat Etto tetap berjuang demi meraih cita-citanya. Perjalanan panjang Etto di Pulau Dewata dimulai ketika ia bergabung dengan salah satu komunitas seni vocal Voice Of Bali pada tahun 2014. Dalam komunitas ini, Etto bertemu dengan orang-orang dari berbagai penjuru di Indonesia. Karena dikenal sebagai pribadi yang ramah dan rendah hati serta memiliki kemampuan olah vocal yang mumpuni, tak jarang Etto diajak oleh beberapa orang temannya di Voice Of Bali untuk menyumbang suara emasnya pada event-event wedding. Dari event-event tersebut Etto memperoleh sedikit rupiah untuk memenuhi kebutuhannya di Bali.
Etto saat penampilan dalam Gita Bahana Nusantara di Istana Negara
           Puncak keberhasilan Etto dalam dunia seni dimulai ketika pada tahun 2015 dirinya dipercayai oleh Pemerintah Provinsi Bali untuk mewakili Bali pada ajang Gita Bahana Nusantara di Istana Kepresidenan tanggal 17 Agustus 2015. Di Jakarta ia bergabung bersama utusan dari 33 provinsi lainnya di Indonesia. Walaupun terpilih sebagai wakil dari Provinsi Bali, akan tetapi pada saat itu Etto merasakan pemerintah setempat kurang memberi dukungan terhadap dirinya. Pemerintah Bali diketahui hanya menanggung tiket transportnya saja, sementara keperluan Etto selama di Jakarta harus ia penuhi sendiri ditambah dari hasil patungan teman-temannya di Voice Of Bali. Namun hal ini tidak menjadi sebuah masalah besar bagi dirinya.
            Tahun keberuntungan Etto nampaknya terjadi di tahun 2016. Pada tahun ini lagi-lagi mahasiswa ISI-Bali ini mengikuti kompetisi vocal bersama group paduan suara dari Voice Of Bali yang kali ini berlokasi di Thailand. Pada event akbar yang bertajuk 1st Laana Intenational Choir Competition ini, Etto dan Voice Of Bali meraih dua medali emas dari kategori Mix Choir dan Folklor. Tidak hanya gelar berkelompok, gelar pribadinya di tahun ini pun ia raih dari ajang Bintang Radio Bali yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI-Bali) dan kali ini dia meraih juara ketiga. Pada bulan Oktober 2017 yang akan datang, sekali lagi Etto bersama Voice Of Bali akan terbang menuju tanah Catalan, Barcelona untuk mengikuti kompetisi paduan suara.
Penampilan Etto dalam pementasan drama musical
            Tidak hanya dalam dunia tarik suara ia memiliki prestasi. Di tahun 2016 sendiri Etto tercatat tiga kali tampil sebagai figure dalam sebah pementasan drama musical yang diselenggarakan di kampus maupun di luar kampus. Pada penampilan pertamanya, ia didaulat menjadi figure Captain Hook dalam drama musical berjudul Peterpan di event Soundwave Paradise. Etto sukses menjalankan perannya dengan baik dibawah arahan maestro opera Bali, ibu Henny Janawati. Masih di tahun yang sama, ia ikut dalam pementasan drama musical pertama hasil produksi ISI-Bali yang berjudul Ni Diah Tantri. Pementasan yang kali ini menjadi salah satu paket acara dalam event Bali Mahalanga ini menceritakan kehidupan kerajaan masa lampau di Bali dan kali ini Etto dipercayai menjadi sang Patih kerajaan.
Etto dalam lakon Pondik pada pementasan drama musical di ISI-Bali
            Namun, dari sekian banyak prestasi yang diraihnya, hal yang sangat berkesan bagi Etto adalah keberhasilan dirinya dalam mengangkat salah satu cerita rakyat Manggarai dalam sebuah pertunjukkan drama musical di kampusnya. Cerita yang diambil adalah cerita tentang figure si Pondik yang memiliki karakter malas dan urak-urakan. Drama musikalnya kali ini mengundang simpatik dari kalangan dosen dan teman-temannya. Ia mengakui bahwa dirinya sangat bangga mengangkat cerita rakyat Manggarai yang akhir-akhir ini sudah mulai hilang akibat perkembangan zaman.
            Sebagai seorang mahasiswa, Etto memberikan sepenggal kalimat yang dapat dijadikan motivasi untuk generasi muda, “terkadang orang pintar bisa dikalahkan oleh orang berani.” Disini ia menghimbau kepada generasi muda agar jangan hanya mengejar untuk menjadi orang pintar. Jadilah orang berani, orang yang berani memperjuangkan apa yang diyakininya dan orang yang berani memperjuangkan apa yang dimilikinya (bakat). Untuk orang tua dan pemerintah di Manggarai Etto memberi saran agar jangan takut jika anaknya ingin memperdalam pengetahuan dalam bidang seni. Seni yang sebenarnya bukanlah sekedar hiburan semata. Segi dalam akademik terdiri dari berbagai macam komponen yang suatu saat dapat berguna bagi kehidupan generasi muda di masa yang akan datang. Untuk pemerintah agar sebanyak-banyaknya menyiapkan wadah bagi generasi muda untuk menuangkan segala macam ide dan kreatifitasnya.
             









Sabtu, 21 Januari 2017

SOSOK



Aleta Baun: Wanita Hebat Dari Nusa Tenggara Timur




Mama Aleta Baun
Pembuktian bahwa wanita mampu untuk menjadi orang yang berpengaruh di tengah-tengah masyarakat nampaknya telah berhasil dilakukan oleh Aleta Baun. Aleta Baun merupakan perempuan asal Nusa Tenggara Timur yang lahir pada tanggal 16 Maret 1966 di Lelobatan, Molo, Timor Tengah Selatan. Mama Aleta merupakan salah satu aktivis lingkungan untuk hak-hak masyarakat adat penentang penambangan marmer di Nusa Tenggara Timur.  
            Perlawanan Mama Aleta terhadap kegiatan penambangan marmer di NTT bermula ketika pada tahun 1980-an pemerintah secara illegal menerbitkan izin untuk melakukan kegiatan pertambangan kepada perusahaan-perusahaan marmer. Setelah izin diberikan oleh pemerintah, perusahaan-perusahaan ini pun memulai kegiatan pertambangan mereka di NTT. Perusahaan-perusahaan ini mulai menambang marmer di kawasan gunung keramat suku Molo. Kegiatan pertambangan yang dilakukan tanpa adanya diskusi dengan masyarakat setempat nampaknya mengakibatkan kerusakan yang sangat parah pada lingkungan di sekitar gunung keramat suku Molo. Alhasil terjadilah penggundulan hutan, tanah longsor, sungai tercemar, yang dimana sumber daya alam tersebut merupakan asset yang sangat berharga bagi masyarakat setempat.
            Melihat keadaan yang sedemikian rupa, hati Mama Aleta tergerak dan ia berniat untuk memperbaiki kembali lingkungan alam NTT yang sudah rusak akibat kegiatan pertambangan marmer. Kemudian pada tahun 1990-an Mama Aleta memutuskan untuk melakukan perlawanan terhadap kegiatan penambangan di NTT dengan cara menggalang dukungan masyarakat dari desa ke desa. Selama 11 tahun perjalanannya dalam menggalang dukungan masyarakat, Mama Aleta berada dalam bayang-bayang ancaman pembunuhan dari perusahaan penambangan yang membuat ia sempat lari bersembunyi di hutan.
            Puncak perlawanan Mama Aleta terjadi pada tahun 2006. Ketika itu ia berhasil menggalang dukungan dari ratusan warga desa. Tindakan nyata yang mereka lakukan pada waktu itu adalah menenun di depan pintu tambang yang diikuti oleh 150 wanita selama satu tahun. Usaha keras Mama Aleta dan para wanita ini membuahkan hasil, di luar dugaan mereka mendapat banyak dukungan dari masyarakat dalam dan luar negeri. Dengan adanya desakan ini, akhirnya pada tahun 2007  kegiatan penambangan dihentikan dan tahun 2010 perusahaan-perusahaan ini menarik diri dari NTT.
            Tidak hanya sampai disitu saja usaha yang dilakukan oleh Mama Aleta dalam memperjuangkan lingkungan hidup di wilayah NTT. Pasca kejadian di Molo, Mama Aleta meneruskan perjuangannya ke NTT bagian barat. Disana ia memprogramkan pemetaan hutan tradisional serta menolak segala macam kegiatan pertambangan.
            Atas upaya dan kerja kerasnya dalam memperjuangkan dan memelihara lingkungan hidup, pada 15 April 2013 Mama Aleta diundang ke San Fransisco dalam satu upacara khusus untuk menerima penghargaan Goldman Environmental Prize 2013. Goldman Environmental Prize 2013 merupakan hadiah lingkungan hidup yang diberikan setiap tahunnya kepada para pahlawan lingkungan hidup yang mewakili masing-masing enam kawasan besar di dunia. Dan yang mewakili Asia Tenggara saat itu adalah Mama Aleta.
            Prestasi yang diraih oleh Mama Aleta dapat membuktikan bahwa kaum perempuan juga bisa merubah dunia dan memperjuangkan dunia. Oleh karena itu, hendaknya segala tindakan yang mengintimidasi kaum wanita saat ini dilenyapkan dari muka bumi. Dan jadikanlah Mama Alenta sebagai sosok yang menginspirasi kerasnya memperjuangkan kehidupan. Saat ini Mama Aleta memasuki babak baru perjuangannya untuk lingkungan dengan menjadi anggota DPRD NTT periode 2014-2019.