Senin, 16 Januari 2017

EKONOMI



Potensi Pesisir Utara Yang Terabaikan



Kesibukan petani garam di tambak garam Reo
Ketika berbicara tentang kekayaan alam di Indonesia nampaknya tidak akan pernah ada habisnya. Potensi kekayaan alam ini membentang luas dari Sabang hingga Merauke. Seperti di pulau Flores misalnya. Berbagai macam potensi dimiliki oleh pulau yang berjuluk pulau bunga ini. Namun potensi ini tidak sepenuhnya dimaksimalkan oleh pemerintah dan masyarakat setempat.
            Flores merupakan salah satu pulau di Indonesia yang memiliki begitu banyak potensi dan sumber daya alam. Tidak terkecuali di wilayah pesisirnya. Potensi wilayah pesisir pulau Flores tidak semata-mata hanya dihasilkan dari produksi akan ikan dan hewan laut lainnya, melainkan masih banyak potensi lain yang belum dimaksimalkan oleh masyarakat setempat. Di Reo, Kabupaten Manggarai Tengah misalnya.
            Reo merupakan sebuah kota kecil di utara Flores yang masuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Manggarai. Sebagai sebuah kota yang berada di pesisir, Reo memegang peran sentral bagi Manggarai, bahkan Flores. Hal ini dikarenakan di kota inilah terdapat pelabuhan Niaga Kedindi, sebagai pintu gerbang perdagangan dan distribusi barang dari dan keluar wilayah Flores. Di kota kecil ini pula terdapat pelabuhan kapal tanker Pertamina yang ingin memasok kebutuhan bahan bakar minyak ke seluruh wilayah Flores.
            Namun kali ini kita tidak akan membahas tentang hiruk pikuk industri dan perdagangan di Reo. Kita akan sedikit mendengarkan jeritan kecil dari para petani garam yang berjuang dan berusaha dibalik ramainya potret kesibukan industri dan perdagangan di kota Reo. Di pesisir kota inilah terdapat beberapa lahan usaha milik petani garam yang memiliki potensi begitu besar, namun sayang terabaikan.
            Diketahui luas lahan pertanian garam dari masyarakat pesisir Reo mencapai sepertiga dari luas wilayah pantai yang dimilikinya. Hal ini menggambarkan pada kita betapa luas dan besarnya lahan usaha milik masyarakat ini. Bayangkan berapa hasil yang dapat diraih dan berapa keuntungan yang dapat diperoleh oleh para petani garam ini. Apabila lahan usaha pertanian garam milik masyarakat Reo ini dioptimalkan, bukan tidak mungkin produksi garam Reo akan mampu mencukupi kebutuhan garam di Manggarai, bahkan di Flores. 
Hasil panen para petani garam di Reo

            Akan tetapi fakta berbicara lain. Segala keuntungan dan perhitungan hanya menjadi angan-angan dan mimpi panjang bagi para petani garam di Reo. Hal ini dikarenakan sikap pemerintah daerah setempat yang cenderung menutup mata dan telinganya. Bagi pemerintah usaha garam hanya sekedar usaha sampingan yang tak tentu penghasilannya dan sangat tidak menjanjikan. Ini sedikit tidak adil bagi para petani garam. Pemerintah seharusnya mendukung usaha para petani garam ini dengan cara memfasilitasi dan mengorganisir para petani, atau bahkan pemerintah harus menyiapkan sebuah lembaga atau unit usaha yang dapat menampung hasil produksi garam dari para petani ini.

            Apabila pemerintah bisa membantu dan mulai memfasilitasi petani garam ini, maka tidak akan pernah terdengar lagi tangisan dan jeritan mereka. Petani garam akan semakin sejahtera, Flores tidak perlu mendatangkan garam dari luar lagi, dan tentunya daerah akan mendapat pemasukan dari hasil usaha garam ini. Oleh karena itu, demi memaksimalkan setiap potensi yang ada pada masyarakat dan alam, kiranya pemerintah bisa diajak bekerja sama dan saling bahu membahu dengan masyarakat untuk membangun NTT yang lebih sejahtera kedepannya.
           
           

Jumat, 13 Januari 2017

WISATA



HISTORY PULAU KENARI
 Oleh: ADDY FARAN
Koleksi Moko di Museum Seribu Moko, Kalabahi, Alor (photo by: detik travel)
Menjajaki pariwisata di Nusa Tenggara Timur nampaknya bagi sebagian orang hanya terpusat pada sosok reptil raksasa komodo saja. Memang tak dapat dipungkiri bahwa pesona hewan endemik ini dapat memanjakan mata bagi siapa saja yang melihatnya. Namun, rasanya agak sedikit kurang lengkap jika perhatian kita hanya tertuju disana. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan keindahan lain masih tersebar disepanjang daratan NTT. Salah satunya yang akan kita jumpai adalah Museum Seribu Moko di pulau kenari, Alor.

                Bagi para pecinta wisata sejarah yang berkunjung ke NTT, kurang lengkap rasanya apabila belum mengunjungi Museum Seribu Moko di Pulau Alor. Museum ini diberi nama Museum Seribu Moko sebagai gambaran yang mewakili pribadi orang Alor beserta kekayaan adat dan budayanya. Museum yang berlokasi di kota Kalabahi ini memang belum lama berdiri, terhitung sejak tahun 2003 lalu. Museum ini sendiri dibangun oleh pemerintah kabupaten Alor. Tujuan dibangunya museum ini tidak lain adalah untuk menyelamatkan warisan budaya masyarakat Alor dan sebagai kilas balik perjalanan sejarah peradaban masyarakat Alor.
                Salah satu hal yang menarik dari museum ini adalah terdapat Nekara yang diperkirakan berasal dari zaman perundagian (zaman perunggu) yang pada masanya digunakan sebagai alat upacara. Masyarakat Alor menyebut nekara ini dengan nama Moko. Moko-moko ini ditemukan oleh Simon J. Oilbaloi berdasarkan petunjuk mimpi pada tanggal 20 Agustus  1972. Penemuan ini merupakan penemuan yang sangat penting bagi masyarakat Alor karena ini merupakan jejak-jejak peradaban mereka. Berdasarkan cerita yang beredar, moko ini selain digunakan sebagai alat musik dalam upacara adat, juga digunakan sebagai mas kawin oleh warga kelompok etnis Pantar.
Moko Nekara (photo by: zoomalor)
                Diketahui bahwa moko yang dipajang dalam museum ini sebanyak 24 moko dan salah satunya memiliki ukuran yang cukup besar. Moko besar ini disebut masyarakat setempat dengan nama Moko Nekara. Berat dari moko nekara ini belum pernah ditimbang. Bentuk fisik dari moko ini didesain menyerupai gendang tambur, dimana permukaan atasnya rata. Di tengah moko ini terdapat gambar bintang dan diberi pemanis berupa empah buah patung kodok di pinggirnya. Di bagian badan moko ini dipasang empat buah telinga, masing-masing  dua di kiri dan dua di kanan. Hingga saat ini para peneliti belum bisa memastikan apa sebenarnya tujuan moko yang didesain seperti ini. Namun diprediksi dari bentuk dan ukurannya moko ini merupakan milik salah satu kerajaan pada zaman itu.
               

Benda peninggalan sejarah lainnya di Museum Seribu Moko (photo by: detik travel)
Selain moko, peninggalan masa lampau yang dipajang di museum ini terdiri dari: muti lempeng, tusuk konde, kain kafate muti, anting-anting perak (ulawang) dan gelang kaki. Selain itu turut dipajang pula contoh pakaian adat Alor beserta senjata-senjata tradisionalnya.
                Dengan mengunjungi Museum Seribu Moko ini, diharapkan agar para wisatawan tidak hanya sekedar melihat namun hendaknya dijadikan sebagai sarana edukasi untuk generasi penerus. Sebagai bangsa yang memiliki banyak kekayaan dalam hal adat dan budaya, tentunya penemuan benda bersejarah seperti moko di kabupaten Alor merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu, kita semua wajib untuk menjaga dan memelihara kekayaan adat dan budaya yang kita miliki.